Jakarta, 1 Juni 2026 – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah fasilitas radar dan pusat komando drone milik Iran. Tak lama setelah operasi tersebut berlangsung, Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone yang disebut bersifat permusuhan. Situasi ini menambah panjang rangkaian eskalasi yang terjadi di kawasan Teluk dalam beberapa waktu terakhir.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan dilakukan terhadap fasilitas radar dan kendali drone di wilayah Goruk serta Pulau Qeshm, Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai langkah pertahanan diri setelah Iran menembak jatuh drone MQ-1 milik AS yang diklaim sedang beroperasi di wilayah perairan internasional. Serangan tersebut disebut menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan fasilitas drone yang dianggap mengancam aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas yang digunakan pasukan Amerika Serikat di kawasan Teluk. Iran menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer AS yang menargetkan infrastruktur strategis mereka. Meski tidak merinci seluruh lokasi sasaran, pernyataan Iran menegaskan bahwa respons lebih besar dapat dilakukan apabila serangan dari pihak AS kembali terjadi.
Di tengah perkembangan tersebut, Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya aktif menghadapi rudal dan drone yang memasuki wilayah udara negara itu. Sirene peringatan dilaporkan sempat berbunyi di sejumlah wilayah, sementara aparat keamanan dan militer meningkatkan kesiagaan. Otoritas Kuwait mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan serta keselamatan warga sipil dan fasilitas vital negara.
Peristiwa terbaru ini terjadi saat berbagai upaya diplomasi masih berlangsung untuk mempertahankan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati antara Washington dan Teheran. Namun, saling serang yang kembali terjadi menunjukkan bahwa situasi di kawasan masih sangat rapuh dan berisiko berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Banyak negara kini memantau perkembangan di Teluk karena kawasan tersebut memiliki peran strategis terhadap jalur energi dan perdagangan internasional.