Boalemo, 31 Agustus 2026 – Krisis iklim semakin terasa dalam kehidupan nelayan perempuan Suku Bajo di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Musna Labaso, 40 tahun, telah menggantungkan hidup dari laut sejak 2003, tetapi perubahan kondisi cuaca dalam beberapa bulan terakhir membuat aktivitas melaut semakin sulit. Gelombang yang meninggi dan cuaca yang tidak menentu membuatnya tidak lagi leluasa menuju wilayah tangkapan yang jauh. Perahu kecil yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya bahkan hancur diterjang ombak besar pada Maret lalu. Sejak saat itu, Musna harus menumpang perahu nelayan lain agar tetap dapat mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kehilangan perahu membuat ruang gerak Musna menjadi jauh lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Ia kini hanya dapat mengikuti nelayan lain menuju wilayah yang memungkinkan untuk dijangkau dalam kondisi cuaca yang relatif aman. Peralatan yang digunakan pun sederhana, terdiri atas tali nilon, pemberat timah, dan umpan cacing untuk menangkap ikan. Sebelum perahunya rusak, Musna dapat membawa pulang sekitar 10 kilogram ikan dalam sehari, bahkan mencapai 20 kilogram ketika melaut hingga dua hari di perairan yang lebih jauh. Kini hasil tangkapannya rata-rata hanya sekitar empat kilogram per hari. Sejumlah jenis ikan yang sebelumnya mudah diperoleh, seperti goropa, katambak, dan oci, juga semakin sulit ditemukan di wilayah tangkapan yang dapat dijangkaunya.
Penurunan hasil tangkapan tersebut langsung berpengaruh terhadap pendapatan Musna. Ketika hasil ikan berkurang, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut tertekan, terlebih dirinya tidak memiliki pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan. Kondisi semakin sulit ketika harga ikan di daratan tidak selalu mengikuti keterbatasan pasokan dari laut. Kemarau panjang yang turut memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat membuat daya beli sebagian konsumen menurun. Akibatnya, nelayan dapat menghadapi situasi ketika ikan sulit diperoleh tetapi harga jual yang diterima justru tidak memberikan keuntungan yang memadai. Bagi Musna, ketidakpastian tersebut membuat kehidupan sehari-hari berada di antara risiko keselamatan di laut dan tekanan ekonomi ketika hasil tangkapan dibawa pulang.
Kondisi serupa dialami Rusmi Copa, 53 tahun, yang juga merupakan nelayan perempuan sekaligus ibu tunggal dari Desa Bajo. Sampan yang sebelumnya digunakan Rusmi juga telah hancur sehingga ia kini harus menumpang perahu milik kakaknya untuk tetap dapat melaut. Keadaan tersebut membuat hasil tangkapan yang diperoleh harus dibagi dengan pemilik perahu, sementara biaya bahan bakar tetap menjadi bagian dari pengeluaran yang harus diperhitungkan. Dalam sekali perjalanan, kebutuhan bahan bakar dapat mencapai sekitar 5 hingga 10 liter. Ketika ombak tinggi datang dan perjalanan tidak menghasilkan tangkapan yang cukup, biaya yang telah dikeluarkan untuk membeli bahan bakar dapat menjadi beban tambahan bagi nelayan.
Cuaca buruk juga membuat Rusmi dan nelayan lainnya harus mengurangi frekuensi melaut. Pada kondisi tertentu, gelombang tinggi bahkan dapat membuat mereka tidak dapat bekerja selama waktu yang panjang. Ketika tangkapan cukup banyak, Rusmi biasanya menyetorkannya kepada pengepul, sedangkan hasil yang lebih sedikit dapat dibawa ke tempat pelelangan. Namun, ketika tidak ada cukup uang yang dapat dibawa pulang, ia memanfaatkan ikan-ikan kecil seperti lolosi untuk dikeringkan menjadi ikan asin. Cara tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi sederhana agar hasil laut tetap dapat dimanfaatkan dan persediaan makanan keluarga tetap tersedia. Bagi rumah tangga nelayan, kemampuan mengolah hasil tangkapan menjadi pangan bukan hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian sumber penghasilan.
Dampak perubahan kondisi laut tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim bagi masyarakat pesisir tidak berhenti pada persoalan keselamatan saat melaut. Perubahan cuaca dapat menentukan apakah seseorang bisa bekerja, seberapa jauh mereka dapat pergi mencari ikan, serta berapa banyak hasil yang mungkin diperoleh. Ketika aktivitas di laut terganggu, persoalan kemudian berlanjut ke daratan melalui penurunan pendapatan dan perubahan harga hasil tangkapan. Situasi tersebut membuat nelayan perempuan berada dalam tekanan berlapis karena mereka harus menghadapi risiko alam sekaligus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. Bagi Musna dan Rusmi, perubahan lingkungan yang berlangsung di sekitar mereka telah menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari, bukan lagi persoalan yang hanya dibahas dalam konteks kebijakan atau isu global.
Keterbatasan akses terhadap alat produksi seperti perahu juga memperbesar kerentanan nelayan perempuan ketika terjadi cuaca ekstrem. Perahu bukan hanya sarana transportasi menuju wilayah tangkapan, tetapi merupakan modal utama untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Ketika perahu rusak dan tidak dapat segera diganti, nelayan kehilangan kemampuan untuk menentukan sendiri waktu serta lokasi melaut. Pilihan untuk menumpang perahu nelayan lain memang memungkinkan aktivitas tetap berlangsung, tetapi konsekuensinya adalah ruang kerja yang lebih terbatas dan hasil yang harus dibagi. Karena itu, dukungan terhadap masyarakat pesisir tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan pangan ketika kondisi sulit, tetapi juga dapat mencakup penguatan sarana produksi, perlindungan keselamatan, serta dukungan agar nelayan mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, laut tetap menjadi tumpuan utama bagi Musna dan Rusmi karena pilihan pekerjaan di daratan sangat terbatas. Musna berharap dapat kembali memiliki perahu sendiri sehingga tidak harus terus bergantung pada perahu orang lain untuk mencari nafkah. Harapan tersebut menunjukkan bahwa bagi nelayan perempuan Bajo, kemampuan untuk kembali melaut secara mandiri memiliki arti penting bagi keberlangsungan ekonomi mereka. Namun, pemulihan penghidupan juga membutuhkan kondisi laut yang lebih aman serta dukungan terhadap kemampuan masyarakat menghadapi perubahan cuaca. Adaptasi menjadi semakin penting karena perubahan pola cuaca dapat memengaruhi pekerjaan nelayan dalam jangka panjang.
Kisah Musna dan Rusmi menggambarkan bagaimana krisis iklim dapat memberikan dampak langsung dan berlapis kepada masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut. Gelombang tinggi dapat menghentikan aktivitas melaut, kerusakan perahu dapat menghilangkan modal kerja, sementara berkurangnya hasil tangkapan dan lemahnya daya beli dapat menekan pendapatan dari sisi lain. Di tengah kondisi tersebut, berbagai cara sederhana seperti menumpang perahu dan mengolah ikan menjadi ikan asin menjadi strategi untuk mempertahankan kehidupan keluarga. Ke depan, kebutuhan terhadap perlindungan dan dukungan adaptasi bagi nelayan perempuan menjadi semakin penting agar mereka tidak semakin rentan menghadapi perubahan kondisi laut. Selama pilihan pekerjaan di darat masih terbatas, laut akan tetap menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Bajo, meskipun kondisi perairan yang semakin tidak menentu membuat perjuangan untuk bertahan hidup menjadi jauh lebih berat.