Nagekeo, 20 Agustus 2026 – Kementerian Sosial memperkuat penanganan darurat bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan membuka dapur umum dan menggerakkan bantuan logistik ke sejumlah lokasi pengungsian. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat. Petugas Kemensos juga terus melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi masyarakat dan kebutuhan di masing-masing titik terdampak. Pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan makanan, tempat berlindung, pakaian, selimut, serta perlengkapan dasar lainnya bagi warga yang harus meninggalkan rumah. Penanganan dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur terkait agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata.
Dapur umum Kemensos mulai beroperasi di Kecamatan Aesesa pada Senin, 17 Agustus 2026. Pada hari pertama, dapur tersebut menyiapkan sekitar 750 hingga 1.000 bungkus makanan untuk kebutuhan makan malam warga. Mulai 18 Agustus, kapasitas produksi ditingkatkan menjadi tiga kali memasak dalam sehari dengan target sekitar 1.000 bungkus setiap kali memasak. Dengan demikian, dapur umum tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 3.000 bungkus makanan setiap hari. Jumlah produksi tetap dapat disesuaikan berdasarkan perkembangan jumlah warga yang berada di pengungsian dan kebutuhan di lapangan.
Keberadaan dapur umum menjadi penting karena sebagian warga terdampak gempa masih bertahan di lokasi pengungsian, baik secara mandiri maupun secara berkelompok. Berdasarkan pendataan sementara pada 17 Agustus, sekitar 18.217 jiwa tercatat mengungsi di Kabupaten Nagekeo. Khusus Kecamatan Aesesa, jumlah warga yang mengungsi mencapai sekitar 4.386 jiwa. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan asesmen yang dilakukan petugas di berbagai wilayah. Kondisi tersebut membuat kemampuan penyediaan makanan harus terus disesuaikan agar tidak terjadi kekurangan permakanan bagi warga yang membutuhkan.
Sebelum dapur umum Kemensos beroperasi, kebutuhan makanan masyarakat juga telah dibantu melalui dapur umum Koramil dengan produksi sekitar 600 bungkus makanan. Kehadiran dapur umum Kemensos kemudian menambah kapasitas pelayanan bagi warga yang masih berada di pengungsian. Bantuan makanan tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu masyarakat yang kesulitan memasak karena rumah mengalami kerusakan atau fasilitas pendukung belum dapat digunakan. Pelayanan permakanan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi warga selama proses penanganan darurat berlangsung. Pemerintah terus memantau jumlah pengungsi agar kapasitas produksi dapat ditambah apabila kebutuhan meningkat.
Selain makanan siap santap, Kemensos juga mengalokasikan 1.000 paket sembako untuk masyarakat terdampak di Nagekeo. Bantuan tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga selama masa darurat. Nagekeo juga mendapatkan tambahan pasokan beras reguler yang menjadi bagian dari dukungan logistik untuk wilayah terdampak gempa di NTT. Bantuan pangan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang masih bertahan di sekitar rumah maupun warga yang berada di lokasi pengungsian. Distribusi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil pendataan dan kondisi masyarakat di setiap wilayah.
Dukungan logistik juga mencakup berbagai perlengkapan yang dibutuhkan warga selama berada di pengungsian. Bantuan yang dikirim melalui Sentra Efata Kupang antara lain berupa tenda, velbed, family kit, tenda gulung, selimut, pakaian dewasa, tenda keluarga, makanan anak, pakaian anak, dan tenda serbaguna. Berbagai perlengkapan tersebut diperlukan karena kebutuhan masyarakat setelah bencana tidak hanya berupa makanan. Warga yang kehilangan tempat tinggal atau tidak dapat kembali ke rumah membutuhkan tempat berlindung serta perlengkapan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Penyediaan perlengkapan bagi kelompok rentan juga menjadi perhatian agar anak-anak dan keluarga dapat melewati masa pengungsian dengan kondisi yang lebih layak.
Gempa tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Nagekeo. Penanganan dilakukan di tujuh kecamatan, yakni Boawae, Mauponggo, Keo Tengah, Wolowae, Aesesa, Aesesa Selatan, dan Nangaroro. Berdasarkan data sementara per 19 Agustus, sebanyak 3.042 kepala keluarga atau sekitar 12.170 jiwa tercatat terdampak. Kerusakan juga terjadi pada ribuan rumah dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Data sementara mencatat 4.829 rumah terdampak, terdiri atas 1.702 rumah rusak berat, 560 rumah rusak sedang, dan 2.567 rumah rusak ringan. Pendataan tersebut masih terus diperbarui karena petugas masih melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi.
Selain kebutuhan pangan dan tempat berlindung, Kemensos juga menyiapkan santunan bagi keluarga korban meninggal dunia. Hingga 19 Agustus, enam orang dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Nagekeo. Setelah proses verifikasi dan validasi data selesai, ahli waris korban meninggal akan mendapatkan santunan sebesar Rp15 juta untuk setiap korban. Pemerintah juga terus melakukan pendataan terhadap korban luka dan masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Seluruh bantuan tersebut menjadi bagian dari respons darurat untuk memastikan masyarakat terdampak memperoleh perlindungan dan dukungan selama menghadapi dampak gempa.
Penanganan gempa Nagekeo masih akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi masyarakat di lapangan. Kemensos menyatakan tim akan tetap melakukan asesmen dan memperluas jangkauan bantuan apabila ditemukan wilayah yang belum mendapatkan pelayanan secara optimal. Dapur umum juga dapat menyesuaikan kapasitas produksi berdasarkan jumlah pengungsi dan kebutuhan makanan setiap hari. Bersamaan dengan itu, distribusi sembako, beras, tenda, perlengkapan keluarga, serta kebutuhan kelompok rentan terus dilakukan secara bertahap. Dengan kombinasi layanan permakanan, dukungan logistik, tempat perlindungan, dan pendataan berkelanjutan, pemerintah berupaya memastikan warga Nagekeo yang terdampak gempa tetap mendapatkan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.