Jakarta, 30 Agustus 2026 – Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap pernah menyiapkan proyek remake film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Proyek tersebut berawal dari wacana Presiden Joko Widodo pada periode pertama pemerintahannya yang menginginkan adanya versi baru film sejarah tersebut agar lebih relevan bagi generasi milenial.
Hanung mengaku langsung tertarik dengan gagasan tersebut. Persiapan bahkan disebut telah berjalan serius dengan mengumpulkan produser, mencari pendanaan, serta melakukan riset sejarah untuk materi film.
Namun, proyek itu akhirnya dihentikan sekitar satu bulan setelah persiapan dimulai. Hanung mengatakan dirinya mendapat informasi bahwa film tersebut belum boleh dilanjutkan karena situasi dinilai belum memungkinkan untuk mengangkat isu sensitif tersebut secara terbuka.
Gagasan Berubah Saat Pandemi
Proyek yang batal tersebut kemudian tidak sepenuhnya ditinggalkan Hanung. Ketika pandemi Covid-19 terjadi, suasana mencekam yang dirasakan masyarakat justru membangkitkan kembali ingatannya terhadap riset sejarah yang pernah dilakukan.
Suara sirene ambulans dan suasana penuh ketakutan selama pandemi membuat Hanung kembali memikirkan gagasan tentang teror. Dari sana, ia kemudian mengubah konsep film sejarah tersebut menjadi sebuah cerita horor.
Konsep awalnya diberi judul The Hole atau Bolong. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi film Lobang Buaya yang kini diproduksi bersama Adhya Pictures dan Dapur Film.
Bukan Remake G30S/PKI
Meski menggunakan nama Lobang Buaya, Hanung menegaskan film tersebut bukan remake film G30S/PKI. Ceritanya juga tidak berfokus pada penculikan tujuh perwira maupun peristiwa yang terjadi di sumur Lubang Buaya pada 1965.
Film ini mengambil latar tahun 1964, sekitar 309 hari sebelum tragedi 1965. Ceritanya berfokus pada gesekan sosial dan politik yang terjadi di sebuah desa bernama Lobang Buaya.
Dalam cerita, konflik berkaitan dengan isu “7 Setan Desa”, istilah yang pada masa itu digunakan untuk menyebut kelompok yang dianggap korup dan mengeksploitasi para petani. Unsur ketegangan sosial tersebut kemudian dipadukan dengan teror mistis dan pembunuhan berantai.
Pilih Horor karena Lebih Memungkinkan
Hanung menjelaskan bahwa membuat film sejarah secara langsung mengenai periode tersebut masih memiliki tantangan tersendiri. Isu G30S dan berbagai narasi mengenai peristiwa 1965 sangat sensitif sehingga berpotensi menimbulkan perdebatan di masyarakat.
Karena itu, pendekatan horor dipilih sebagai cara untuk mengolah ketakutan dan ingatan kolektif terhadap periode tersebut tanpa menjadikannya film sejarah tentang peristiwa G30S/PKI. Hanung juga menilai genre horor memiliki daya tarik kuat bagi penonton Indonesia sekaligus peluang menjangkau pasar internasional.
Tayang Oktober 2026
Lobang Buaya telah merilis trailer dan poster resminya. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
Dengan perubahan konsep tersebut, Hanung memilih menghadirkan kisah fiksi horor berlatar sejarah ketimbang meneruskan proyek remake G30S/PKI yang sebelumnya sempat ia persiapkan. Film ini menjadi bentuk lain dari gagasan sejarah yang pernah ia riset, tetapi disajikan melalui cerita tentang konflik sosial, teror, dan ketegangan masyarakat desa.