Jakarta, 12 September 2026 – Wakil Ketua MPR RI mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor agar perpustakaan mampu menghadapi tantangan perubahan zaman dan tetap relevan bagi masyarakat. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mencari, membaca, dan memanfaatkan informasi sehingga perpustakaan perlu melakukan berbagai penyesuaian. Fungsinya tidak lagi sebatas menyediakan koleksi buku, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran, literasi, diskusi, dan pemberdayaan masyarakat. Transformasi tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, serta pengelola perpustakaan. Kolaborasi diperlukan agar keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui pembagian peran yang efektif. Dengan langkah tersebut, perpustakaan diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi perpustakaan saat ini. Informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui telepon pintar, mesin pencari, media sosial, dan berbagai platform digital. Kemudahan tersebut membuat masyarakat tidak selalu harus datang ke perpustakaan ketika membutuhkan informasi sederhana. Namun, banyaknya informasi yang tersedia juga menghadirkan persoalan mengenai kredibilitas, akurasi, dan kemampuan masyarakat memilih sumber yang dapat dipercaya. Perpustakaan memiliki peluang mengambil peran lebih besar dalam membantu masyarakat menemukan informasi berkualitas. Fungsi kurasi pengetahuan menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital.
Wakil Ketua MPR menilai kolaborasi menjadi kunci karena transformasi perpustakaan membutuhkan dukungan yang tidak dapat ditanggung satu institusi saja. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan, anggaran, dan infrastruktur, sedangkan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia. Sektor swasta dapat berkontribusi melalui teknologi maupun program tanggung jawab sosial. Komunitas literasi memiliki kemampuan menghidupkan perpustakaan dengan berbagai kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sekolah juga dapat menjadikan perpustakaan sebagai bagian aktif dari proses pembelajaran. Sinergi tersebut akan membuat layanan berkembang lebih cepat sekaligus menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.
Digitalisasi koleksi menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperluas akses. Buku, dokumen, arsip, dan berbagai materi pengetahuan dapat tersedia dalam format digital sehingga pengguna tidak selalu dibatasi lokasi maupun jam operasional. Sistem katalog daring juga memungkinkan masyarakat mengetahui koleksi yang tersedia sebelum datang ke perpustakaan. Namun, digitalisasi harus dilaksanakan dengan memperhatikan hak cipta, keamanan sistem, dan perlindungan terhadap koleksi yang memiliki nilai khusus. Infrastruktur teknologi juga membutuhkan pemeliharaan agar layanan tetap dapat digunakan dalam jangka panjang. Karena itu, transformasi digital harus disertai perencanaan yang matang dan peningkatan kemampuan pengelola.
Peran pustakawan ikut mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi. Pustakawan tidak lagi hanya berurusan dengan penyimpanan, pencatatan, dan peminjaman koleksi, tetapi juga dapat menjadi pendamping masyarakat dalam mencari serta memahami informasi. Kemampuan menggunakan basis data, melakukan verifikasi informasi, memahami teknologi digital, dan memberikan edukasi literasi semakin dibutuhkan. Pustakawan dapat membantu masyarakat membedakan informasi kredibel dengan konten menyesatkan yang banyak beredar di internet. Peran tersebut menjadi penting terutama bagi pelajar yang membutuhkan sumber berkualitas untuk kegiatan pendidikan. Peningkatan kompetensi pustakawan karena itu harus berjalan bersama modernisasi fasilitas.
Perkembangan kecerdasan buatan juga memberikan tantangan sekaligus peluang bagi perpustakaan. Teknologi tersebut dapat membantu pencarian koleksi, pengelompokan informasi, maupun penyediaan layanan yang lebih cepat kepada pengguna. Namun, hasil yang dihasilkan sistem berbasis kecerdasan buatan tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk melakukan verifikasi dan memahami konteks. Perpustakaan dapat menjadi salah satu tempat masyarakat mempelajari penggunaan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Kemampuan literasi digital semakin penting karena informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu memiliki dasar yang benar. Pendidikan mengenai cara mengevaluasi sumber dapat menjadi salah satu layanan yang dikembangkan perpustakaan masa depan.
Transformasi juga perlu dilakukan tanpa meninggalkan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses digital. Tidak seluruh wilayah memiliki kualitas internet dan perangkat yang sama, terutama di kawasan terpencil. Perpustakaan daerah dan desa dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh akses terhadap komputer, internet, buku, serta berbagai materi pembelajaran. Layanan perpustakaan keliling tetap dapat dipertahankan untuk menjangkau daerah yang belum memiliki fasilitas permanen. Pendekatan tersebut diperlukan agar modernisasi tidak justru memperlebar kesenjangan informasi. Teknologi harus digunakan untuk memperluas layanan sambil mempertahankan pilihan konvensional bagi masyarakat yang membutuhkannya.
Perpustakaan juga dapat dikembangkan sebagai ruang publik yang lebih aktif dan inklusif. Kegiatan seperti diskusi buku, pelatihan keterampilan, kelas menulis, aktivitas anak, pendampingan belajar, dan edukasi teknologi dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat. Ruang yang nyaman dapat mendorong masyarakat datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga bertukar pengetahuan dan mengembangkan kemampuan. Model tersebut membuat perpustakaan memiliki fungsi sosial yang semakin luas. Pelajar, mahasiswa, pekerja, pelaku usaha, hingga masyarakat lanjut usia dapat memanfaatkan layanan berdasarkan kebutuhan masing-masing. Perpustakaan dengan demikian dapat menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat.
Penguatan budaya membaca tetap menjadi bagian mendasar dari seluruh proses transformasi. Teknologi dapat mengubah format dan cara seseorang memperoleh bacaan, tetapi kemampuan memahami informasi secara mendalam tetap membutuhkan kebiasaan membaca yang baik. Keluarga dan sekolah memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan tersebut sejak usia dini. Perpustakaan kemudian menyediakan lingkungan dan koleksi yang mendukung minat masyarakat untuk terus membaca. Program literasi juga perlu dibuat menarik dan disesuaikan dengan karakter kelompok usia yang menjadi sasaran. Kolaborasi dengan komunitas dapat membantu menghadirkan kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dorongan Wakil Ketua MPR untuk memperkuat kolaborasi menunjukkan bahwa perpustakaan perlu terus beradaptasi agar tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman. Transformasi digital, peningkatan kompetensi pustakawan, pengembangan ruang publik, serta perluasan akses menjadi sejumlah aspek yang dapat dijalankan secara bersamaan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri sehingga dukungan lembaga pendidikan, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat menjadi sangat penting. Modernisasi juga harus dilakukan secara merata agar perpustakaan di daerah memperoleh kesempatan berkembang seperti fasilitas yang berada di kota besar. Teknologi seharusnya menjadi sarana memperluas akses terhadap pengetahuan dan bukan menggantikan sepenuhnya fungsi sosial perpustakaan. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, perpustakaan diharapkan tetap menjadi pusat literasi dan pembelajaran yang mampu mengikuti kebutuhan masyarakat dari generasi ke generasi.