Samarinda, 14 September 2026 – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengambil langkah meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko paparan kabut asap terhadap anak-anak yang dinilai menjadi salah satu kelompok paling rentan mengalami gangguan kesehatan. Meski aktivitas pembelajaran tatap muka dihentikan sementara, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG dipastikan tetap berjalan bagi para siswa. Pemerintah daerah menilai kebutuhan gizi anak tetap harus terpenuhi meskipun mereka untuk sementara tidak mengikuti kegiatan belajar secara langsung di sekolah. Mekanisme penyaluran makanan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah agar tidak membuat siswa harus berada terlalu lama di luar rumah. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah menjaga kesehatan masyarakat di tengah penanganan karhutla yang masih berlangsung.
Keputusan meliburkan sekolah diambil setelah kabut asap semakin memengaruhi kualitas udara dan aktivitas masyarakat di Kalimantan Timur. Pemerintah daerah melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer sekaligus memperhatikan perkembangan kasus gangguan pernapasan yang dapat meningkat ketika konsentrasi polutan berada pada tingkat tidak sehat. Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan aktivitas fisik dapat membuat volume udara yang terhirup menjadi lebih besar. Perjalanan dari rumah menuju sekolah juga dapat meningkatkan durasi paparan apabila kabut asap cukup pekat. Atas pertimbangan tersebut, penghentian sementara pembelajaran tatap muka dinilai menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi aktivitas anak di luar ruangan. Sekolah diminta menyesuaikan kegiatan pendidikan selama kebijakan tersebut berlaku.
Rudy Mas’ud menegaskan bahwa penghentian sementara kegiatan di sekolah tidak berarti seluruh layanan bagi siswa ikut dihentikan. Program MBG tetap dilaksanakan karena telah menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan nutrisi peserta didik. Pemerintah daerah bersama satuan pendidikan dan pihak yang terlibat dalam distribusi makanan perlu melakukan penyesuaian agar program dapat berlangsung tanpa meningkatkan paparan kabut asap terhadap siswa. Mekanisme pengambilan atau distribusi dapat disesuaikan berdasarkan kondisi lapangan dan kemampuan masing-masing sekolah. Prinsip utama yang dijaga adalah makanan tetap diterima oleh siswa dengan proses yang aman dan efisien. Evaluasi dilakukan apabila kualitas udara mengalami perubahan sehingga sistem distribusi dapat kembali disesuaikan.
Kebijakan meliburkan sekolah juga memberikan tantangan bagi tenaga pendidik karena proses pembelajaran harus tetap berlangsung melalui mekanisme yang memungkinkan dilakukan dari rumah. Sekolah dapat menyesuaikan materi dan tugas agar siswa tetap memperoleh kegiatan pendidikan tanpa harus menghadapi beban berlebihan selama situasi darurat. Pengalaman pembelajaran jarak jauh sebelumnya dapat menjadi salah satu dasar untuk mengatur komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua. Namun, pemerintah tetap perlu mempertimbangkan keterbatasan akses internet dan perangkat digital pada sebagian keluarga. Karena itu, metode pembelajaran tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pertemuan daring dalam waktu panjang. Fleksibilitas dibutuhkan agar perlindungan kesehatan tidak menyebabkan kesenjangan pendidikan semakin besar.
Kabut asap akibat karhutla menjadi perhatian karena mengandung partikel halus yang dapat masuk ke sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, iritasi mata dan tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi seseorang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Pemerintah daerah meminta masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah apabila tidak memiliki kebutuhan mendesak. Penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai juga dianjurkan ketika warga harus berada di luar ruangan. Rumah tangga dengan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, maupun anggota keluarga yang memiliki gangguan pernapasan diminta meningkatkan kewaspadaan. Fasilitas kesehatan turut disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan jumlah warga yang membutuhkan pelayanan.
Pelaksanaan MBG selama sekolah diliburkan memerlukan perhatian khusus terhadap keamanan pangan. Makanan yang telah disiapkan harus sampai kepada penerima dalam kondisi layak konsumsi meskipun pola distribusinya berbeda dibandingkan ketika kegiatan sekolah berjalan normal. Waktu antara proses memasak dan konsumsi perlu dikendalikan untuk mengurangi risiko penurunan kualitas makanan. Tempat penyimpanan dan pengangkutan juga harus memenuhi prinsip kebersihan agar makanan tidak terkontaminasi selama perjalanan. Pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan terhadap satuan pelayanan pemenuhan gizi maupun pihak lain yang terlibat dalam proses tersebut. Penyesuaian distribusi tidak boleh mengurangi standar keamanan yang menjadi bagian penting dari program makanan untuk anak.
Di luar sektor pendidikan, pemerintah Kalimantan Timur terus memperkuat penanganan kebakaran yang menjadi sumber kabut asap. Tim gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman pada sejumlah titik sekaligus mencegah api menyebar menuju kawasan lain. Kondisi lahan kering dan perubahan arah angin menjadi tantangan karena dapat mempercepat perluasan kebakaran. Pada kawasan tertentu, akses menuju titik api juga sulit sehingga personel membutuhkan waktu lebih panjang untuk membawa peralatan dan pasokan air. Pemadaman dari udara dapat digunakan ketika kondisi penerbangan memungkinkan, sementara operasi darat tetap menjadi bagian penting untuk memastikan bara benar-benar padam. Pemerintah juga meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran baru.
Kebijakan terhadap sekolah akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla. Pemerintah daerah tidak hanya mempertimbangkan keberadaan asap secara visual, tetapi juga tingkat konsentrasi polutan yang dapat memengaruhi kesehatan. Apabila kondisi membaik dan kualitas udara kembali berada pada tingkat yang memungkinkan aktivitas normal, pembelajaran tatap muka dapat dipertimbangkan untuk dibuka kembali. Sebaliknya, masa penghentian kegiatan sekolah dapat diperpanjang apabila risiko kesehatan masih tinggi. Keputusan tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas kesehatan, serta instansi yang memantau kondisi lingkungan. Informasi mengenai perubahan kebijakan juga perlu disampaikan secara cepat agar orang tua dapat menyesuaikan aktivitas keluarga.
Orang tua memiliki peranan penting selama anak menjalani kegiatan dari rumah karena paparan asap tetap dapat terjadi meskipun sekolah ditutup. Pintu dan jendela dapat ditutup ketika kualitas udara di luar memburuk untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi sampai kondisi kembali membaik. Anak yang menunjukkan gejala gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan apabila keluhan memburuk atau berlangsung terus-menerus. Informasi mengenai kualitas udara dapat digunakan keluarga sebagai dasar menentukan aktivitas harian. Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan sambil menunggu sumber kebakaran dapat dikendalikan.
Keputusan Rudy Mas’ud meliburkan sekolah di Kalimantan Timur sambil mempertahankan pelaksanaan program MBG menunjukkan upaya pemerintah daerah menyeimbangkan perlindungan kesehatan dengan keberlanjutan pelayanan kepada siswa. Penghentian pembelajaran tatap muka diarahkan untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap anak, sementara kebutuhan nutrisi tetap dijaga melalui distribusi makanan yang disesuaikan dengan situasi darurat. Pemerintah daerah akan terus memantau kualitas udara, perkembangan kasus gangguan pernapasan, serta keberhasilan operasi pemadaman sebelum menentukan kebijakan berikutnya. Penanganan karhutla tetap menjadi faktor utama karena pemulihan aktivitas pendidikan bergantung pada membaiknya kondisi lingkungan. Selama kabut asap masih berada pada tingkat yang berisiko, masyarakat diminta membatasi aktivitas luar ruangan dan mengikuti arahan pemerintah. Sekolah dapat kembali beroperasi secara normal setelah kondisi dinilai aman sehingga kegiatan pendidikan dan program MBG dapat kembali berjalan melalui mekanisme seperti sebelum terjadinya peningkatan karhutla.