Jakarta, 17 September 2026 – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan kapan arus pasokan melalui Selat Hormuz dapat kembali pulih secara normal. Jalur perairan strategis tersebut menjadi perhatian karena memiliki peran penting dalam perdagangan energi dan berbagai komoditas yang menopang rantai pasok global. Gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi biaya transportasi, ketersediaan energi, hingga biaya produksi pangan di sejumlah negara. FAO menilai perkembangan situasi perlu terus dipantau sebelum dampak jangka panjang terhadap sektor pangan dapat dihitung secara lebih akurat. Ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran menjadi salah satu faktor yang membuat proyeksi pemulihan belum dapat dilakukan dengan pasti. Kondisi tersebut juga membuat pelaku pasar berhati-hati dalam memperkirakan normalisasi perdagangan di kawasan.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan selanjutnya menuju jalur perdagangan internasional. Sebagian besar ekspor energi dari negara-negara di kawasan Teluk melewati perairan tersebut sebelum mencapai pasar dunia. Gangguan pada aktivitas pelayaran karena itu dapat memberikan dampak yang melampaui sektor minyak dan gas. Kapal yang membawa bahan pangan, pupuk, bahan baku industri, dan berbagai komoditas lainnya juga bergantung pada kelancaran jalur perdagangan regional. Ketika risiko keamanan meningkat, perusahaan pelayaran dapat menghadapi biaya operasional dan asuransi yang lebih besar. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi diteruskan ke dalam harga barang yang dibayar konsumen.
Bagi sektor pangan, perkembangan harga energi memiliki pengaruh yang cukup luas terhadap rantai produksi dan distribusi. Bahan bakar dibutuhkan untuk mengoperasikan mesin pertanian, mengangkut hasil panen, menjalankan fasilitas pengolahan, serta mendistribusikan produk hingga mencapai pasar. Kenaikan biaya energi dalam periode panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya produksi pangan. Negara yang sangat bergantung pada impor juga menghadapi risiko tambahan apabila biaya pengiriman internasional meningkat. Dampaknya dapat berbeda antara satu negara dan negara lainnya bergantung pada struktur produksi serta tingkat ketergantungan terhadap perdagangan. Karena itu, FAO terus mencermati perkembangan jalur logistik sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi ketahanan pangan.
Pupuk menjadi komponen lain yang mendapatkan perhatian karena industri tersebut memiliki hubungan erat dengan energi dan perdagangan internasional. Produksi sejumlah jenis pupuk membutuhkan gas alam sebagai bahan baku maupun sumber energi dalam proses manufaktur. Perubahan harga energi dapat memengaruhi biaya produksi dan pada akhirnya harga pupuk yang diterima petani. Gangguan logistik juga dapat memperpanjang waktu pengiriman apabila kapal harus menunggu, mengubah jadwal, atau menggunakan rute alternatif. Bagi negara pengimpor, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan apabila berlangsung bertepatan dengan musim tanam. Ketersediaan pupuk dan keterjangkauan harganya memiliki hubungan langsung dengan kemampuan petani mempertahankan produktivitas.
FAO menilai dampak terhadap pangan tidak hanya ditentukan oleh kondisi Selat Hormuz, tetapi juga oleh kemampuan sistem perdagangan global menyesuaikan diri. Perusahaan dapat mengubah sumber pasokan, jadwal pengiriman, maupun rute logistik apabila gangguan berlangsung cukup lama. Namun, penyesuaian semacam itu biasanya membutuhkan biaya tambahan dan tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Negara dengan cadangan pangan dan jaringan pemasok yang beragam memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi gangguan sementara. Sebaliknya, negara yang sangat bergantung pada satu jalur atau sumber impor dapat menghadapi tekanan lebih cepat. Situasi tersebut membuat dampak terhadap harga pangan tidak dapat diproyeksikan hanya berdasarkan satu indikator.
Ketidakpastian juga berkaitan dengan berapa lama gangguan pelayaran berlangsung dan seberapa cepat aktivitas komersial dapat kembali normal. Pembukaan atau peningkatan akses pelayaran belum tentu langsung mengembalikan volume perdagangan ke tingkat sebelumnya. Perusahaan pelayaran harus mempertimbangkan kondisi keamanan, ketersediaan kapal, premi asuransi, jadwal pelabuhan, serta kontrak pengiriman yang sempat mengalami perubahan. Penumpukan kapal dan kargo juga dapat membutuhkan waktu untuk diselesaikan setelah kondisi membaik. Karena itu, pemulihan rantai pasok biasanya berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi dalam satu waktu. FAO memandang perkembangan beberapa waktu ke depan akan menjadi penting untuk menentukan arah pemulihan.
Negara-negara yang bergantung pada impor pangan perlu memperhatikan risiko tersebut melalui penguatan ketahanan pasokan. Diversifikasi sumber impor dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu pemasok maupun satu jalur distribusi. Pengelolaan cadangan pangan juga memiliki peran dalam menghadapi gangguan jangka pendek sehingga perubahan pasokan internasional tidak langsung menimbulkan kelangkaan. Pemerintah pada saat yang sama perlu memantau pergerakan harga untuk mengidentifikasi tekanan yang dapat berdampak terhadap rumah tangga. Kelompok berpendapatan rendah biasanya lebih rentan terhadap kenaikan harga pangan karena proporsi pengeluaran untuk kebutuhan makanan relatif lebih besar. Kebijakan perlindungan sosial dapat menjadi penting apabila tekanan harga berlangsung dalam periode panjang.
Indonesia juga memiliki kepentingan terhadap perkembangan tersebut meskipun sebagian besar kebutuhan pangan diproduksi di dalam negeri. Perubahan harga energi, pupuk, biaya angkutan laut, dan nilai tukar dapat memengaruhi harga sejumlah komoditas maupun bahan baku yang masih bergantung pada pasar internasional. Pelaku usaha dapat menghadapi perubahan biaya logistik apabila perusahaan pelayaran melakukan penyesuaian terhadap risiko di kawasan Timur Tengah. Pemerintah karena itu perlu menjaga ketersediaan komoditas strategis sekaligus memantau perkembangan perdagangan internasional. Diversifikasi pemasok dapat membantu mengurangi risiko apabila salah satu jalur perdagangan mengalami gangguan berkepanjangan. Ketahanan pangan nasional tetap membutuhkan kombinasi produksi domestik yang kuat dan sistem impor yang mampu menghadapi perubahan kondisi global.
Perkembangan di Selat Hormuz juga memperlihatkan eratnya hubungan antara geopolitik, energi, logistik, dan ketahanan pangan. Gangguan pada satu jalur perdagangan dapat menghasilkan efek berantai melalui perubahan biaya pengiriman dan harga bahan baku. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada harga pangan karena perusahaan maupun pemerintah dapat memiliki persediaan yang cukup untuk menahan tekanan dalam jangka pendek. Namun, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar kemungkinan biaya tambahan masuk ke berbagai tahapan rantai pasok. Kondisi tersebut menjadi alasan lembaga internasional terus memantau perkembangan perdagangan dan harga komoditas. Data mengenai arus kapal, biaya energi, pupuk, serta harga pangan akan menjadi indikator penting untuk menilai besarnya dampak.
Penilaian FAO bahwa masih terlalu dini memprediksi pemulihan pasokan melalui Selat Hormuz menunjukkan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi perdagangan global. Pemulihan tidak hanya bergantung pada terbukanya jalur pelayaran, tetapi juga pada keamanan, kepercayaan perusahaan pelayaran, biaya asuransi, serta kemampuan jaringan logistik menyesuaikan jadwal. Sektor pangan menjadi salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian karena sangat bergantung pada energi, pupuk, transportasi, dan perdagangan lintas negara. Pemerintah dan pelaku usaha dapat menggunakan periode ketidakpastian tersebut untuk memperkuat cadangan serta memperluas sumber pasokan. Perkembangan harga pangan dalam beberapa waktu mendatang akan bergantung pada durasi gangguan dan respons pasar terhadap perubahan kondisi. Normalisasi yang stabil dan berkelanjutan menjadi faktor penting sebelum dampak terhadap pasokan global dapat diperkirakan dengan lebih pasti.