Jakarta, 6 September 2026 – Enzo Maresca menjalani awal yang menjanjikan sebagai pelatih Manchester City setelah berhasil membawa timnya meraih hasil sempurna dalam tiga pertandingan pertama Liga Inggris musim 2026-2027. Pelatih asal Italia tersebut datang ke Stadion Etihad dengan tugas yang tidak sederhana karena harus menggantikan Pep Guardiola, sosok yang membangun periode paling sukses dalam sejarah klub. Tekanan semakin besar karena City juga menjalani perubahan komposisi pemain setelah sejumlah nama penting meninggalkan klub pada musim panas. Namun, tiga pertandingan awal menunjukkan proses transisi berjalan relatif mulus. City mampu mengumpulkan sembilan poin sekaligus mempertahankan posisi di kelompok teratas klasemen. Erling Haaland tetap menjadi sumber gol utama, sementara sejumlah pemain baru mulai memberikan kontribusi. Awal positif tersebut membuat era baru Manchester City di bawah Maresca mendapatkan fondasi yang cukup kuat.
Manchester City mengawali perjalanan liga bersama Maresca dengan kemenangan meyakinkan 4-1 atas Crystal Palace. Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa perubahan pelatih tidak langsung menghilangkan ketajaman lini depan The Citizens. Pada pertandingan berikutnya, City menghadapi perlawanan lebih ketat dari Bournemouth tetapi tetap mampu mengamankan kemenangan 2-1. Ujian kembali datang ketika menghadapi Coventry City pada Sabtu, 5 September 2026. City tidak mampu mendominasi lawan dengan skor besar seperti pada pertandingan pembuka, tetapi tetap menemukan jalan untuk menang 1-0. Haaland kembali menjadi penentu dengan mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut. Tiga kemenangan dengan karakter berbeda menunjukkan City mulai mampu beradaptasi terhadap tuntutan pertandingan di bawah pelatih baru. Kemampuan memenangkan laga ketika permainan tidak berjalan sempurna menjadi salah satu aspek positif dari periode awal Maresca.
Tantangan terbesar Maresca bukan hanya mendapatkan hasil, tetapi mengelola warisan sepak bola Guardiola yang telah tertanam selama satu dekade. Guardiola membawa City memenangkan berbagai trofi domestik dan internasional serta membentuk identitas permainan berbasis penguasaan bola yang sangat kuat. Maresca sendiri memahami sistem tersebut karena pernah menjadi bagian dari staf Guardiola pada musim 2022-2023. Ia juga sebelumnya menangani tim Elite Development Squad Manchester City sehingga mengenal struktur dan lingkungan klub dengan baik. Pengalaman itu membuat proses adaptasinya berbeda dibandingkan pelatih yang sama sekali baru mengenal City. Meski demikian, Maresca sejak awal menegaskan dirinya tidak datang untuk menyalin seluruh metode Guardiola. Ia ingin mempertahankan konsep yang masih relevan sekaligus memasukkan karakter permainannya sendiri. Pendekatan tersebut mulai terlihat dalam cara City bermain pada awal musim.
Maresca tetap menggunakan penguasaan bola dan pembangunan serangan dari belakang sebagai fondasi permainan. Namun, City kini terlihat lebih berani memainkan bola secara vertikal dan menyerang ruang dengan cepat ketika kesempatan muncul. Pemain sayap diberikan ruang lebih besar untuk menghadapi bek lawan dalam situasi satu lawan satu. Jeremy Doku dan Antoine Semenyo menjadi pemain yang sangat sesuai dengan pendekatan tersebut karena mempunyai kecepatan serta kemampuan menggiring bola. Kedatangan Iliman Ndiaye semakin memberikan variasi bagi lini depan. City tidak selalu harus menjalani rangkaian operan panjang sebelum memasuki wilayah pertahanan lawan. Ketika ruang terbuka, Maresca menginginkan pemain mempercepat serangan dan segera mencari Haaland di kotak penalti. Perubahan tersebut membuat permainan City mempunyai unsur langsung yang lebih kuat dibandingkan pada beberapa periode di bawah Guardiola.
Fleksibilitas posisi juga menjadi bagian penting dalam sistem Maresca. Ketika menguasai bola, City dapat berubah dari struktur empat pemain belakang menjadi formasi tiga bek dengan pemain lain bergerak menuju lini tengah. Salah satu bek sayap dapat masuk ke area sentral untuk membantu menciptakan keunggulan jumlah pemain. Struktur tersebut memungkinkan gelandang mendapatkan lebih banyak pilihan ketika membangun serangan dari belakang. Pada fase tertentu, City dapat membentuk pola 3-2-5 dengan lima pemain mengisi garis serangan. Maresca juga mempunyai opsi menambah jumlah pemain di lini terakhir ketika menghadapi lawan yang bertahan sangat dalam. Pendekatan itu membutuhkan pemain dengan kemampuan memahami beberapa posisi sekaligus. Karena sebagian besar skuad sudah terbiasa dengan konsep permainan posisional, proses penerapan sistem baru dapat berlangsung lebih cepat.
Perubahan skuad menjadi bagian lain yang harus dikelola Maresca pada musim pertamanya. City kehilangan sejumlah pemain yang sebelumnya mempunyai peran penting dalam periode Guardiola, termasuk Bernardo Silva dan beberapa pemain senior lainnya. Kondisi tersebut membuat klub melakukan penyegaran dengan mendatangkan pemain yang sesuai dengan kebutuhan pelatih baru. Iliman Ndiaye menjadi salah satu tambahan terbaru setelah didatangkan dari Everton pada akhir bursa transfer. City juga memperkuat lini tengah dengan sejumlah pemain yang mempunyai kemampuan bermain di berbagai posisi. Maresca membutuhkan pemain seperti itu karena sistemnya menuntut perubahan struktur sepanjang pertandingan. Kehadiran wajah baru sekaligus mengubah hierarki di ruang ganti yang selama bertahun-tahun dibangun bersama Guardiola. Tiga kemenangan awal memberikan waktu dan ketenangan bagi Maresca untuk menyatukan skuad tanpa tekanan hasil negatif.
Di tengah perubahan tersebut, Haaland tetap menjadi figur utama yang memberikan kesinambungan antara era Guardiola dan Maresca. Penyerang Norwegia itu terus menunjukkan ketajamannya dan menjadi pemain yang paling diandalkan ketika City membutuhkan gol. Saat menghadapi Coventry, Haaland kembali menjadi penentu dalam kemenangan tipis 1-0. Ia juga telah mencapai tonggak 300 gol sepanjang karier klubnya pada periode awal kepemimpinan Maresca. Kehadiran penyerang dengan kemampuan penyelesaian seperti Haaland memberikan keuntungan besar bagi sistem baru City. Maresca dapat mengembangkan permainan sayap yang lebih langsung karena mempunyai target kuat di dalam kotak penalti. Haaland sendiri menilai proses pembangunan ulang City berjalan positif dan memberikan apresiasi terhadap aktivitas transfer klub. Namun, ia juga menyadari tim masih berada pada tahap awal dan membutuhkan waktu sebelum mencapai performa terbaik.
Maresca sebelumnya telah membangun reputasi melalui pekerjaannya bersama Leicester City dan Chelsea sebelum kembali ke Manchester. Pengalamannya di Inggris membuat dirinya memahami karakter Liga Inggris serta tekanan yang menyertai klub dengan target besar. Hubungannya dengan Manchester City juga bukan sesuatu yang baru karena ia pernah menangani tim kelompok usia klub sebelum menjadi asisten Guardiola. Faktor tersebut membantu Maresca memahami standar yang ditetapkan manajemen maupun ekspektasi terhadap permainan tim. Ia mengetahui kemenangan saja tidak selalu cukup karena City telah membangun reputasi sebagai klub yang dituntut tampil dominan. Maresca karena itu mencoba mencari keseimbangan antara mempertahankan identitas yang sudah terbentuk dan memberikan pembaruan. Ia menolak gagasan bahwa pekerjaannya hanya melanjutkan sistem Guardiola tanpa perubahan. Menurutnya, setiap pelatih mempunyai cara berbeda dalam melihat dan menerapkan konsep sepak bola.
Meski memulai musim dengan sembilan poin, ujian sesungguhnya bagi Maresca masih akan datang. Jadwal kompetisi akan semakin padat ketika Manchester City mulai menjalani pertandingan Liga Champions bersamaan dengan persaingan domestik. Lawan dengan kualitas lebih tinggi juga akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai efektivitas perubahan taktik yang diterapkan. City masih membutuhkan konsistensi dalam menghadapi tim yang mampu melakukan tekanan tinggi maupun bertahan dengan blok rendah. Kedalaman skuad akan diuji ketika cedera dan rotasi mulai menjadi bagian dari perjalanan musim. Maresca juga harus menjaga keseimbangan antara memberikan kesempatan kepada pemain baru dan mempertahankan stabilitas tim. Tekanan untuk memenangkan trofi tetap besar karena standar Manchester City telah dibangun sangat tinggi selama satu dekade terakhir. Tiga kemenangan pertama menjadi awal yang baik, tetapi belum cukup untuk menentukan keberhasilan keseluruhan proyek tersebut.
Transisi dari Guardiola menuju Maresca sejauh ini berlangsung jauh lebih tenang dibandingkan kekhawatiran yang muncul ketika pergantian pelatih diumumkan. City masih memperlihatkan kemampuan mengontrol pertandingan, tetapi mulai menambahkan kecepatan, agresivitas, dan permainan vertikal yang lebih kuat. Para pemain lama tampak mampu menyesuaikan diri, sedangkan rekrutan baru mulai mendapatkan tempat dalam struktur tim. Haaland tetap produktif dan menjadi jaminan gol ketika permainan belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Sembilan poin dari tiga pertandingan memberikan Maresca ruang untuk terus menyempurnakan idenya tanpa harus mengejar ketertinggalan sejak awal musim. Tantangan mempertahankan standar Guardiola tentu tidak dapat dinilai hanya melalui beberapa pertandingan. Namun, awal musim menunjukkan Manchester City tidak kehilangan arah setelah memasuki periode kepelatihan baru. Maresca kini mempunyai kesempatan membuktikan bahwa transisi mulus tersebut dapat berkembang menjadi era sukses berikutnya di Stadion Etihad.